Chat with us, powered by LiveChat

Simon Tetapkan 22 Pemain Timnas Senior yang Dibawa ke Myanmar

Pelatih timnas senior Simon McMenemy telah menetapkan 22 orang pemain untuk dibawa ke Myanmar dalam rangka uji coba yang masuk kalender FIFA, sehingga bisa memperbaiki peringkat Indonesia bila berhasil memenangkan pertandingan melawan tuan rumah timnas Myanmar yang dijadwalkan berlangsung pada 25 Maret 2019.

Ke 22 orang pemain tersebut adalah penjaga gawang Andritany dan Teja Paku Alam. Untuk pemain belakang terdiri dari Hansamu Yama, Yustinus Pae, Rudolof Yanto Basna, Ricky Fajrin, Ruben Sanadi, dan Novri Setiawan.

Pemain tengah diisi oleh Evan Dimas, Zulfiandi, Stefano Lilipaly, Manahati Lestusen, Arthur Bonai, Rizky Pellu, Wahyu Subo Seto, Andik Vermansyah, Riko Simanjuntak, M. Rahmat, dan Febri Haryadi.

Sedangkan pemain depan hanya tiga orang yakni Greg Nowokolo, Ilija Spasojevic, dan Dedik Setiawan. Ada satu pemain naturalisasi yang tidak ikut ke Myanmar, Otavio Dutra, yang ternyata proses administrasi naturalisasinya belum kelar.

Menilik dari para pemain yang dipilih Simon, di samping menumpuknya pemain gelandang, tampaknya tusukan dari sayap melalui pemain yang mampu adu lari seperti yang dipunyai Riko, Andik, Febri, dan juga Novri, akan menjadi strategi. Namun tentu dituntut akurasi pemain depan dalam menyambut umpan dari sayap agar bisa dikonversi menjadi gol.

Sebelum ke Myanmar, timnas senior telah melakukan serangkaian uji coba, di antaranya saat berlatih di Australia, sempat melakukan dua kali pertandingan. Pertama menang 3-1 atas klub Perth Glory dan menang telak 5-1 atas State League 2 All Star.

Terakhir, sebelum penetapan 22 pemain terpilih, timnas senior hanya bermain imbang 1-1 melawan Bali United di Stadion Wayan Dipta, Gianyar, Bali.

Laga melawan Myanmar menjadi debut Simon McMenemy yang bersifat resmi. Meskipun demikian, pelatih berkebangsaan Inggris ini telah cukup mengenal sepak bola Indonesia karena sudah dua tahun menangani klub Bhayangkara FC.

Simon dikontrak 2 tahun dengan sasaran utama adalah menjuarai Piala AFF 2020, sebuah turnamen paling bergengsi di level Asia Tenggara, yang ironisnya belum pernah timnas senior memboyong trofinya.

Padahal di tingkat usia yang lebih muda yakni pada Piala AFF U-16, U-19 dan U-22, Indonesia sudah membuktikan kekuatannya. Banyak pengamat yang mengulas bahwa bintang-bintang sepak bola remaja kita, begitu menginjak usia dewasa, permainannya menurun. 

Apakah ini ada kaitannya dengan organisasi sepak bola kita yang masih amburadul, termasuk iklim kompetisi yang kurang kondusif dengan adanya indikasi pengaturan skor, masih perlu diteliti.

Semoga laga persahabatan di Myanmar menuai hasil positif sebagai obat kekecewaan atas kekalahan timnas U-23 dari Thailand dengan skor telak 0-4 tadi malam (22/3/2019) di Hanoi, Vietnam.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *